Dan ternyata…

27 Januari 2012

Kamis malam, hari itu mungkin hari yang gak bakalan bisa gw lupa. Apa pasalnya? Febri ternyata sakit. Pihak keluarganya gak ada yg pernah memberitahu masalah ini. Gw, nyokap, nenek panik setengah mati saat kejangnya kambuh. Tubuhnya tersungkur di lantai atas. Gw bisa mendengar suara jatuhnya saat dia kejang. Astagfirullah! Belum pernah gw lihat dia kayak begitu.

Matanya melotot tapi pandangannya kosong, badannya kejang, mulutnya mengeluarkan air liur. Bibirnya membiru. Mungkin seperti orang sekarat. Nyokap memanggil nama Febri sambil menangis. Terasa sekali ketegangan saat itu. Nenek menyebut astagfirullah beberapa kali. Gw panik dan bingung. Apa yang harus gw lakukan? Sumpah bingung.

Yang ada di pikiran gw. Bagaimana kalau umur Febri sampe malam itu saja. Ingin sekali menepis pikiran itu, tapi tetap datang. Akhirnya badan Febri lemas di pelukan nyokap, gak tegang seperti sebelumnya. Gw gopoh badanya ke atas kasur.

Gw nyoba telpon bapaknya. Tak ada jawaban. Telpon adiknya. Hasilnya nihil. Gw coba sms. Alhamdulillah ada respon. Malam itu terasa panjang. Gw gak bisa langsung tertidur. Masih shock.

Sekarang Febri sudah normal kembali. Tapi entah sampai kapan. Obat-obatan telah ia tengguk. Kini ia masih istirahat.

Gw bisa ambil kesimpulan. Dan ternyata penyakit ini yang bikin ibunya sulit melepas Febri. Gw akhirnya ngerti. Tapi kenapa harus begini? Kenapa sebelumnya gak ada yang cerita tentang penyakitnya. Keuarganya nampak menyembunyikannya. Keliatan sekali. Bingung, marah dan perasaan tak menentu hantui gw.

Oh Tuhan! Kenapa jadi seperti begini?

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.